Translate

Kamis, 05 Februari 2015

20 Facts About Me

Pernah iseng menulis ini di Facebook beberapa bulan lalu. Aku salin di sini biar nanti-nanti gampang dibaca lagi, hehe..

1. Populer dengan sebutan "putri tidur" karena bisa tidur dimana saja dan kapan saja. Bahkan beberapa kali tertidur pas nonton di bioskop. Komentar teman saya, "parah!"
2. Selalu simple, terutama kalau tentang barang-barang. Selama 4 tahun kuliah di Jogja belum pernah yang namanya punya lemari baju karena baju cukup disimpan di koper. Terus kalau pergi-pergi tidak pernah berurusan sama over bagage.
3. Waktu zaman jadi mahasiswa, sehari kuliah maksimal 6 SKS. Tapi sehari kerja tidak pernah kurang dari 6 SKS. Jadilah tiap hari pulang ke kos jam 21.30 dan langsung tepar.
4. Selalu terlihat ceria dan semangat di depan orang banyak padahal sebenarnya hatinya rapuh. (Malah curhat, hihii )
5. Tahun 2010, pas KKN di Lombok Timur mulai terkena virus travelling. Sejak saat itu rela super ngirit demi bisa ke Bromo, Semeru, Krakatau, Makassar, Tanah Toraja, Danau Toba, Dieng, Pulau Komodo, Kawah Putih dll.
6. Tidak suka jalan-jalan sendirian soalnya kalau ketiduran di kendaraan umum, tidak ada yang membangunkan. Berkali-kali naik metromini kebablasan karena ketiduran.
7. Bercita-cita nikah sebelum usia 25 tapi ini udah lebih 25 dan belum nikah. (Apasih?)
8. Golongan darah O, mudah bosan dengan suatu hal. Jadi, paling tidak bisa mengerjakan hal yang sama dalam waktu lama.
9. Suka banget ngajar, terutama ngajar anak-anak SD. Kata temanku, aku cukup berbakat jadi inspirator dan motivator untuk anak-anak, hehee (sombong)
10. Suka banget bersepeda. Rute terjauhku baru Imogiri-Parangtritis dan Jogja (kos) - Klaten (rumah). Dari kos ke rumahku itu kira-kira 60 atau 70 km. Cihuy kan? (makin sombong)

11. Bercita-cita Umrah sebelum umur 30 tahun. InsyaAllah sebentar lagi, Bismillah.
12. Mudah tertular kebaikan orang. Pas kelas 1 SMP pernah main ke rumah kakak kelas. Pas nyampe sana si embaknya lagi baca Quran. Sejak saat itu aku bertekad mau baca Quran setiap hari. Alhamdulillah istiqomah sampai saat ini.
13. Suka kegiatan out door seperti main ke pantai dan gunung. Gunung pertama yang pernah ku daki sampai puncak tertingginya adalah gunung Tambora di Pulau Sumbawa.
14. Mudah nangis sekalipun karena hal-hal kecil dan nangisnya pun kadang di depan banyak orang. (Hadeuh, bikin malu aja!)
15. Loyal banget sama keluarga, sahabat-sahabat dan orang-orang terdekat. Nandemo ageru-lah.
16. Merasa bersyukur banget atas pembiasaan baik yang ibuku tanamkan padaku sejak kecil. Ingat banget kelas 2 SD ibuku sudah mewajibkanku sholat. Tiap dibangunkan buat sholat subuh, aku selalu nangis berderai-derai.
17. Sejak SMA suka nonton drama Jepang. Jadi tau kalau anak-anak di Jepang kalau udah kuliah rata-rata sambil bekerja agar bisa mandiri, membiayai kuliah dan hidupnya sendiri. Sejak itu, aku pengen banget kayak gitu. Alhamdulillah bisa mewujudkannya.
18. Pengen banget punya rumah sendiri yang ada perpustakaannya. Jadi, anak-anak tetangga bisa baca-baca buku dan belajar di rumahku.
19. Pengen belajar memainkan alat musik; gitar/keyboard/biola.
20. Suka kegiatan yang bersifat sosial atau voluntary.

Rabu, 04 Februari 2015

Sebait Nasihat dari Para Sahabat

Salah satu kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya adalah memberi nasihat. Banyak orang, temasuk saya, tidak sulit memberi nasihat. Apalagi, ketika kita merasa diri kita benar dan orang lain salah, dengan mudahnya kita mengeluarkan serangkaian nasihat bijak. Namun, jika suatu saat kita berbuat khilaf, akankah kita dengan berluas hati menerima nasihat?

Saya mempunyai seorang sahabat, Uli Tri Utami namanya. Kami sama-sama sedang terus berusaha memperbaiki diri. Entah sejak kapan tepatnya kami mulai saling berbagi hikmah saban hari. Bahkan, kami saling memberi tahu doa apa yang kami rapalkan. Salah satu doa Tami, begitu ia disapa, adalah "semoga Allah melunakkan hatiku, tidak keras dan mudah menerima nasihat".

Mendengar doa Tami itu, telinga saya tetiba rasanya seperti tersentil. Doa itu seharusnya dilafalkan oleh orang egois dan berhati keras seperti saya ini! Begitu yang terlintas dalam benak saya kala itu.

Sebagai orang yang mempunyai sifat egois, saya termasuk orang yang sulit menerima nasihat. Akan tetapi, sepertinya perlahan saya sedang dibelajarkan untuk melunakkan hati agar mudah menerima nasihat. Beruntunglah saya dipertemukan dengan sahabat-sahabat terbaik seperti Uli Tri Utami, Mariana Suci Swastika, Rida Rohmawati, Irma Indrawati, Nani Nurhasanah, Annisa Novita dan masih banyak lainnya. Mereka adalah sahabat sekaligus inspirasi saya dalam mengeja kebaikan, salah satunya tentang bagaimana melapangkan dan melunakkan hati.

Tidak diragukan lagi kebenaran nasihat "Berkumpullah dengan orang-orang salih". Juga, nasihat "Jika kita berdekatan dengan penjual minyak wangi, maka kita akan ikut berbau wangi. Demikian juga jika kita berdekatan dengan penjual bangkai, maka kita akan ikut berbau busuk." Sekali lagi, beruntungkah saya dikumpulkan dengan sahabat-sabahat terbaik yang selalu saling menasihati dalam kebaikan.

Maka, doa yang sering saya rapal hingga saat ini (mudah-mudahan sampai akhir hayat) ialah, "Ya Allah, perjalankanlah kakiku ke tempat-tempat yang Kau berkahi. Kumpulkanlah aku dengan orang-orang shalih yang hatinya selalu terpaut pada-Mu. Lunakkan dan lapangkanlah hatiku serta lembutkanlah tuturku."

Mungkin orang-orang di sekitar saya masih sering melihat saya berperilaku egois, mudah marah, terlalu banyak tertawa dan mengeluarkan kata-kata yang kurang enak didengar. Mohon ingatkanlah saya, berilah saya nasihat. Saya sangat ingin memperbaiki diri.  Maka, nasihatilah saya meski hanya sebait atau dua bait.

Selasa, 03 Februari 2015

Pelit

Adakah di dunia ini nama orang yang mengandung unsur arti kata "pelit'? Mungkin tidak ada. Yang ada justru sebaliknya. Banyak kita jumpai nama orang yang mengandung unsur kata "dermawan" (lawan kata "pelit"). Karena nama adalah doa, maka unsur kata "dermawan" atau "darmawan" lebih banyak dipilih oleh para orang tua. Harapannya, anak-anak mereka akan menjadi anak yang gemar berderma, murah hati.

Alih-alih menyematkan unsur arti kata "dermawan" pada nama saya, ibu saya memilih memberi contoh langsung perilaku berderma pada saya sejak saya kecil. Walaupun perekonomian keluarga kami selalu pas-pasan, justru kadang kurang, ibu saya tidak pernah pelit berbagi. Ketika membuat masakan tertentu misalnya, ibu tak lupa berbagi pada para tetangga dan saudara terdekat. Tidak tanggung-tanggung, ibu kadang membagikan setengah dari hasil masakannya. Saat membuat seperiuk bubur mutiara misalnya, setengah periuknya biasanya dibagikan seketika setelah bubur masak. Setengah sisanya baru untuk kami.

Dulu saat saya masih kecil, saya kadang tidak menyukai kebiasaan ibu membagi-bagi makanan ini. Sebabnya adalah saya belum puas memakan masakan ibu itu, ternyata sudah habis dibagi-bagikan. Saya dongkol kalau sudah seperti itu. Selain itu, hal yang juga membuat saya dongkol adalah ibu sering menyuruh saya yang mengantarkan makanan itu ke tetangga padahal saya masih asyik menonton TV. Kenapa sih harus saya yang mengantar?

Entah sejak kapan saya kemudian menyadari apa yang dilakukan oleh ibu saya itu adalah contoh yang baik. Saya berusaha menyontoh semua itu walaupun sampai detik ini kadang masih berat. Ada saja godaaan yang kadang membuat saya urung berderma. Saya berusaha sering-sering mengingat perkataan ibu saya, "Dadi uwong rasah pelit. Bondo mati ora digowo!" (Jadi orang jangan pelit. Harta mati tidak dibawa)

Barangkali sulit menjadi orang yang benar-benar dermawan, tidak mengharapkan balasan apapun selain dari Allah. Semoga kita (terutama saya pribadi) selalu diringankan tangannya untuk berbagi. Juga, semoga Allah SWT menjadikan kita orang yang kaya sehingga semakin banyak harta yang bisa kita dermakan.