Translate

Senin, 12 Januari 2015

Pulang

Liburan tahun baru lalu saya pulang ke kampung halaman saya. Sebagai perantau di Ibukota, saya tergolong yang sering pulang kampung. Dua bulan atau tiga bulan sekali saya menyempatkan diri untuk pulang. Namun, kepulangan saya kali ini rasanya agak berbeda. Ada sedikit rasa kikuk saat saya bersosialisasi dengan orang-orang di kampung saya.

Saya mulai meninggalkan kampung halaman saya sejak berkuliah di UGM. Karena jarak kampung halaman saya (Klaten) tidak terlalu jauh dari Jogja, setiap dua pekan sekali saya pulang ke rumah. Saya biasanya pulang pada Jumat sore dan kembali lagi ke Jogja pada Senin pagi. Praktis saya menghabiskan akhir pekan di rumah. Jika ada tetangga yang mengadakan hajatan, saya biasanya membantu bersama teman-teman perempuan seusia saya. Saat ada rapat muda-mudi atau gotong royong di desa, saya pun biasanya ikut serta. Saya juga mengajar TPA di masjid dekat rumah saya.

Setelah lulus kuliah, saya berkesempatan menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar yang ditugaskan selama setahun di Pulau Sumbawa, NTB. Sebagai Pengajar Muda (PM), salah satu tugas saya adalah mengadakan pembelajaran masyarakat. Ini menuntut saya untuk membina hubungan dengan berbagai lapisan masyarakat dari yang sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan formal, hingga yang sudah bergelar master.  Dari perangkat desa, hingga pejabat tingkat propinsi. Dari BALITA, hingga LANSIA. Selain karena tuntutan peran saya sebagai PM, saya menyukai aktivitas ini karena pada dasarnya saya tergolong orang yang mudah bergaul dengan bermacam jenis orang dan saya pun sudah terbiasa aktif dalam kegiatan sosial.

Selesai masa tugas saya sebagai PM, saya merantau ke Jakarta. Saya kemudian menjadi bagian dari sekian juta pendudduk Jakarta yang bekerja dari pagi hingga petang. Pada akhir pekan biasanya saya bertemu dengan teman-teman saya: pergi ke toko buku, lari pagi bersama, berbelanja, makan, karaoke, juga nonton film. Jika ada kegiatan semacam sukarelawan, saya kadang masih menyempatkan untuk ikut. Pergaulan saya semakin meluas, pengalaman saya pun semakin bertambah.

Selama setahun lebih saya berada di Jakarta, sudah 5 kali saya pulang. Setiap kali pulang, saya biasanya hanya bisa di rumah 2 atau 3 malam. Maklum, buruh perusahaan seperti saya ini tidak bisa mengambil cuti sesuka hati. Saat pulang inilah saya biasanya lebih banyak berada di rumah untuk beristirahat. Ada semacam kelembaman yang membuat saya hanya bertahan di dalam rumah. Saya nyaris tidak bersosialisasi dengan para tetangga.

Pada libur tahun baru lalu, saya mendapat jatah libur agak lama. Selama 5 hari saya berada di rumah. Saya sempat mengobrol dengan tetangga saya, seorang ibu sepantaran ibu saya. Dulu saya sering kali mengobrol dengan beliau. Namun, entah kenapa hari itu saya merasa obrolan kami tidak bisa senyaman dulu. Esok paginya, hal yang sama terulang lagi. Saat saya sedang menyapu halaman, lewatlah seorang nenek yang baru saja pulang dari sawah. Melihat keberadaan saya, beliau mampir. Kami bersalaman dan saling menanyakan kabar. Tiba-tiba, saya kesulitan mencari tema pembicaraan, kosakata saya buyar. Kenapa saya menjadi seasing ini?    

Saya kemudian teringat penggalan puisi Rendra yang pernah diunggah oleh teman saya di grup jejaring sosial kami,

Apakah gunanya pendidikan 
bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibukota,
menjadi sekrup-sekrup di Schlumberger, Freeport dan sebagainya,
kikuk pulang ke daerahnya?

Apakah gunanya seseorang belajar  teknik, kedokteran, filsafat, sastra atau apa saja

ketika pulang ke rumahnya, lalu berkata : 
"Di sini aku merasa asing dan sepi!!"

Penggalan puisi tersebut seolah diteriakkan tepat di depan saya. Saya lemas seketika. 


Ya, ada yang perlu dibenahi segera. Saya tidak mau menjadi "layang-layang" dan "sekrup-sekrup itu" !

Tidak ada komentar: