Translate

Senin, 19 Januari 2015

Tabula Rasa: Masakan dan Perjalanan

Minggu, 17 Januari lalu, saya dan dua orang teman saya (Vivi dan Teh Nani) melihat penayangan langsung Film "Tabula Rasa" di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia. Saya menonton film ini karena sebelumnya teman saya (Kak Shally) membuat ulasan di blog-nya tentang film ini. Sebagai seorang yang sejak lama menaruh minat yang tinggi tentang budaya Minang, saya begitu tertarik dengan Film yang tema materialnya adalah masakan Padang ini. Agar kesan yang saya tangkap dari film ini tidak lekas menguap, maka saya yang masih bodoh tentang dunia film, mencoba membuat meresensi film ini.

Serui, sebuah daerah pesisir di Papua tempat seorang pemuda bernama Hans (Jimmy Kobogau) tumbuh dan menemukan mimpinya sebagai pesepak bola. Suatu ketika, datanglah seseorang dari Jakarta yang menjanjikan karir sepak bola yang cemerlang untuk Hans. Berangkatlah Hans ke Ibukota untuk mewujudkan mimpinya.

Malangnya, di Jakarta Hans mengalami patah tulang kaki dan klub sepak bola tempat ia bernaung tidak mau bertanggung jawab sehingga Hans harus menggelandang di jalanan. Suatu hari, bertemulah putra Papua ini dengan Mak (Dewi Irawan) yang kemudian menawarinya untuk bekerja di warung masakan Padang milik Mak. Dari kebaikan Mak inilah Hans menemukan makna perjalanan hidupnya selama ini.

Film yang disutradarai oleh Adriyanto Dewo ini sepintas terkesan sangat sederhana. Lokasi pengambilan gambarnya dominan di dapur, pasar dan jalanan antara warung Mak menuju pasar. Adegannya juga hanya seputar masak-memasak. Sangat biasa, tidak ada suatu yang sangat "wah". 

Namun, dari yang biasa ini penonton diajak untuk mengambil makna. Kebaikan yang sepele, seperti yang diberikan Mak pada Hans ternyata bisa mengubah hidup si anak Papua ini.

Sesuai tema utama film ini yaitu tentang makanan dan masakan, Sheilla Timothy sebagai produser ingin menyampaikan pesan bahwa masakan bisa menjadi media untuk menyatukan orang dari suku yang berlainan. Masakan juga bisa dijadikan sarana oleh seseorang untuk melanjutkan kehidupan. Ini jelas sekali tergambar dari latar belakang Mak yang memutuskan merantau ke Jawa untuk membuat usaha warung masakan Padang setelah rumahnya luluh lantah dan anak lelaki serta suaminya meninggal akibat gempa besar di Padang tahun 2009. 

Judul "Tabula Rasa" sebenarnya tidak ada hubungannya dengan makanan atau masakan. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, frasa ini mengandung makna: teori yang menyatakan bahwa setiap individu dilahirkan dengan jiwa yang putih bersih dan suci (yang akan menjadikan anak itu baik atau buruk adalah lingkungannya). Sedangkan lingkungan niscaya akan terus berubah seiring dengan perjalanan waktu. Jadi, frasa "tabula rasa" inilah yang menghubungkan antara masakan dengan perjalanan hidup. Melalui masakan, Hans bisa menemukan makna perjalanan hidupnya. Melaui masakan pula, Mak melanjutkan hidup dan berdamai dengan duka masa lalunya.

Menurut pendapat saya secara subjektif, film ini sepertinya tidak dibuat hanya untuk tujuan bisnis dan memenuhi selera pasar semata. "Pesan" yang ingin disampaikan terlihat sangat kuat. Walaupun ini merupakan film yang mengajak penontonnya untuk "berfikir", ini tidak lantas membuat penonton harus terus-menerus mengernyitkan dahi tanda sedang berfikir keras. Selipan dialog dan adegan humor yang muncul beberapa kali membuat penonton terhibur. 

Terakhir, saya berpesan bagi yang belum menonton film ini, jangan lupa pastikan perut Anda dalam keadaan kenyang sesaat sebelum menonton film ini. Jika tidak, saya tidak tau apa yang akan terjadi nanti. :-D


sumber gambar : http://www.jawapos.com/baca/artikel/5977/Tabula-Rasa-Kisah-Filosofi-Makanan




4 komentar:

Fenny Ferawati mengatakan...

Alur ceritanya biasa tapi sepertinya ide masakan itu yang menarik

Perpustakaan Balita Ceria mengatakan...

Iya, menarik banget Fen.. Dan kayaknya film Indonesia yang tentang masakan ya baru ada satu ini tok. Ini yang bikin menarik.

Annisa Novita mengatakan...

Ditaa, aku baru bacaaa.. Yes, good job ! Aku sudah dapat gambaran lebih lengkap meskipun telat, hehe...
Thanks ditaa, sudah mengabulkan request nyaa ;))

Perpustakaan Balita Ceria mengatakan...

Syama-syama ya Viviiii.. Ayo kapan kita nonton lagi! hehe