Translate

Jumat, 09 Januari 2015

Dita Jalan-Jalan #2


1. Sumatra Utara Trip (Danau Toba, Pulau Samosir, Air Terjun Sipiso-Piso, Istana Maimoon)

Februari 2012. Dari Yogyakarta saya dan teman-teman menumpang kereta ekonomi favorit kami, Progo, menuju Ibukota Jakarta. Dari sana baru kami terbang dengan maskapai LCC yang populer di kalangan para traveler yaitu Lion Air (Ini bukan iklan ya, hehe). Tibalah kami di Medan, Ibu Kota propinsi Sumatra Utara. Waktu itu bandara Kuala Namu belum selesai dibangun. Jadilah kami mendarat di Polonia.

Sebelum menuju Danau Toba, kami singgah semalam di Pematang Siantar, rumah salah satu teman kami. Kebetulan waktu itu sedang musim durian. Kami pun puas menikmati durian dengan harga murah meriah. Harga 1 durian besar jika sedang musim seperti itu bisa mencapai Rp 10.000. 


Kebun Teh
Di perjalanan Pematang Siantar hingga Danau Toba kami disuguhi pemandangan perkebunan kelapa sawit yang rasa-rasanya tak terhingga luasnya. Dari Siantar hingga Parapat, saat kontur tanah sudah agak meninggi, pemandangan berganti dengan perkebunan teh yang menyejukkan mata.








Tepian Danau Toba
Akhirnya kami tiba di pinggir danau terbesar di Indonesia itu. Dari ketinggian, itu terlihat lebih cocok disebut laut daripada danau. Kami ber-14 lalu menyewa boat. Masing-masing kami membayar Rp 50.000. Pengemudi boat membawa kami melihat Batu Gantung sebelum menuju Pulau Samosir. 





Rumah Adat Batak Toba
Setibanya di Pulau Samosir, kami berkeliling dengan jalan kaki. Banyak bangunan kuno kami kunjungi antara lain kubur batu Raja Sidabutar, Patung Sigale-Gale dan rumah adat Suku Batak Toba. Di sekitar tempat itu banyak kios warga yang berjualan cidera mata khas Danau Toba. Juga, banyak penginapan yang menghadap langsung ke Danau Toba. Seandainya bisa menginap di sana, bersantai dan menikmati pemandangan lebih lama, pasti lebih menyenangkan. Hehe..

Puas menikmati Danau Toba dan Pulau Samosir, kami melanjutkan perjalan ke Air Terjun Sipiso-Piso, air terjun yang dinobatkan sebagai yang tertinggi di Asian Tenggara. Memang benar-benar tinggi air terjun ini sehingga membuat kami ngos-ngosan saat menaiki tangga setelah menikmati Sipiso-Piso.


Istana Maimoon
Malamnya kami langsung menuju Medan sembari mampir sebentar membeli jeruk di Brastagi. Esok harinya baru kami berkeliling kota Medan, mengunjungi masjid Raya Medan, menikmati es durian di dekat kampus USU dan melihat kemegahan Istana Maimoon. Kebetulan saat itu di Istana Maimoon sedang dimainkan live music irama Melayu. Kami pun menari-nari mengikuti alunan musik itu. 


2. Dataran Tinggi Dieng


Dari Jogja kami berkonvoi sepeda motor menuju Dieng, dataran tinggi yang masuk dalam wilayah Kabupaten Banjarnegara. Waktu yang kami butuhkan saat itu sekitar 5 jam. Memasuki dataran tinggi Dieng, hawa sudah menjadi lebih dingin daripada Jogja. Pemandangan pun berganti dengan hamparan tanaman sayur mayur. Waktu itu saya dan rombongan hanya sempat mengunjungi kawah Si Kidang dan Candi Dieng karena hujan turun. Sayang sebenarnya, namun kami sudah cukup puas.







3. Taman Nasional Pulau Komodo

Perairan Komodo
Saat itu saya berangkat dari Pelabuhan Sape, Bima, dengan kapal selama 7 jam menuju Labuhan Bajo, Flores. Karena kami berangkat malam hari, lepas subuh kami sudah tiba di Labuhan Bajo. Kami langsung mencari biro wisata yang masih menyediakan perjalanan ke Kepulauan Komodo pada hari itu. Di luar dugaan saya, Labuhan Bajo ternyata cukup ramai. Banyak agen wisata, penginapan, toko oleh-oleh dan restoran dari yang paling sederhana hingga yang paling terlihat mahal. Orang asing juga berseliweran di jalan-jalan. Seperti miniatur Legian, Bali, pikir saya.


Kami masuk ke dalam salah satu agen wisata dan untungnya masih ada paket yang kosong untuk hari itu. Setelah masing-masing membayar Rp 350.000, kami pun berhak mengikuti paket perjalanan 2 hari 1 malam menjelajahi area Taman Nasional Pulau Komodo. Di Pulau Komodo dan Pulau Rinca kami harus membayar untuk pawang yang mengantarkan kami mencari keberadaan komodo di alam bebas. Tanpa pawang, pengunjung tidak diizinkan menjelajahi kedua pulau ini karena alasan keamanan. Ya, komodo tergolong sebagai hewan carnivora yang bisa juga memangsa manusia. Kabarnya, beberapa tahun silam pernah ada wisatawan yang tewas dimangsa komodo.





Sebagai salah satu dari 7 keajaban dunia kategori alam (New 7 Wonders of Nature), komodo menjadi destinasi wisata yang cukup digandrungi oleh para wisatawan manca negara. Saat saya berkunjung ke sana, saya melihat bahwa jumlah wisatawan asing jauh lebih banyak daripada wisatawan lokal.

Selain "berburu" komodo, kami juga mengunjungi pink beach, ber-snorkeling ria di sana dan melihat ikan manta di sebuah perairan yang entah apa itu namanya. Benar-benar 2 hari 1 malam yang mengesankan.





Kami kembali ke Labuhan Bajo saat sore hari. Karena kapal yang akan membawa kami kembali ke Bima hanya ada pada waktu pagi, jadilah kami harus mencari penginapan di Labuhan Bajo. Setelah berkeliling ke beberapa penginapan, kami menemukan yang cukup murah. Satu kamar seharga Rp 175.000/ malam yang bisa diisi oleh 3 orang. Fasilitasnya adalah kasur, AC, dan kamar mandi dalam. Lumayanlah untuk melepas lelah setelah tracking di perbukitan Pulau Komodo.

Tidak ada komentar: