Translate

Kamis, 01 Juni 2017

Multi Tafsir - Komunikasi Produktif #2

Hampir setahun menjalani pernikahan jarak jauh dengan suami membuat saya berkesimpulan bahwa masalah komunikasi adalah salah satu hal penting yang perlu diperjuangkan. Komunikasi yang seringnya hanya bisa melalui media obrolan daring (WA/Line/ SMS) dan telepon, kadang menimbulkan interpretasi yang multi tafsir atau tidak sesuai dengan maksud komunikator. Bahkan, prasangka negatif terkadang datang membututi.

Setelah mempelajari materi Komunikasi Produktif di Kelas Bunda Sayang pekan ini, saya seolah mendapatkan jalan solusi permasalahan yang saya hadapi selama hampir setahun ini. Kaidah 7-38-55 sepertinya tepat untuk mengatasi masalah komunikasi saya dengan suami.

Pagi ini, saya membuka kembali history percakapan WA saya dengan suami.  Saya baru menyadari bahwa selama ini suami saya lebih sering menggunakan kata "sayang" daripada saya. Maka, mulai hari ini saya bertekad untuk lebih sering menggunkan kata "sayang" atau "cinta". Saya pun segera memulai percakapan melalui WA dengan suami saya,"Udah sahur, Sayang?" 

Hingga menjelang dzuhur, tak ada balasan dari suami saya. Saya sempat agak kecewa. Tapi, mungkin ini ujian untuk pelajaran komunikasi yang sedang saya praktikkan. Saya kemudian coba kembali mengirim pesan, "Gimana kabarnya, Abi Sayang?" Tak lama berjeda, datang balasan, "Alhamdulillah, Sayang." Hati saya berbunga-bunga. Berlanjutlah percakapan kami membahas tema-tema lain. 

Bagi saya, memilih diksi yang baik saat berkomunikasi dengan suami adalah kegiatan yang menarik sekaligus menyenangkan. Terbukti sudah bahwa umpan kata-kata positif akan melahirkan tanggapan kata-kata yang positif juga. Selain itu, meggunakan kata-kata positif ternyata membuat pikiran dan perasaan menjadi positif.

Walaupun pemilihan kata-kata hanya mengambil peran 7% dari keberhasilan sebuah komunikasi, bagi saya ini sudah sangat berarti karena kondisi saya yang berjauhan dengan suami. Ingin saya mempraktikkan bagian yang 35%, yaitu penggunakan intonasi yang tepat. Akan tetapi, belum bisa intens saya terapkan karena keterbatasan jam telepon dengan suami. Seperti hari ini, kami hanya baru sempat bertelepon beberapa menit saja. Sebisa mungkin saya menggunakan intonasi dan ekspresi yang lembut. Tidak ada saya lontarkan pertanyaan-pertanyaan bernada menyelidik, komplain atau semacamnya. 


#level1
#day2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tidak ada komentar: