Translate

Rabu, 21 Agustus 2013

ASAHAN, SUMATRA UTARA


Satu lagi perjalanan bersama BFM (Februari 2012)

Selalu ada jalan untuk setiap niat baik. Hukum itulah yang selalu ku pegang, ku yakini kebenarannya. Berkali-kali aku mengalami langsung hukum itu berlaku dalam hidupku. Bukan hanya jalan yang selalu terbentang, melainkan keajaiban yang tak pernah disangka-sangka.

Hari itu, Senin, 16 Januari 2012. Aku memutuskan untuk tidak ikut kegiatan BFM kali ini, ke Asahan, Sumatra Utara. Ingin sekali, ingin sekali aku ikut. Ingin bertemu anak-anak di sana, ingin belajar bersama mereka, ingin tahu mimpi mereka, ingin melihat tawa mereka, dan ingin, ingin, ingin banyak sekali. Tapi, harapannku semakin menciut setelah melihat kondisi keuanganku saat itu yang tidak mengizinkan aku ikut. “Ok, mungkin untuk perjalanan kali ini aku tidak ikut dulu”, kataku dalam hati dengan sangat berat tapi mencoba untuk ikhlas.

Sore hari sekitar jam 14.30 aku bersama Rida, sahabatku duduk di sebuah bangku di bawah pohon besar yang meneduhi area parkir belakang fakultas kami. Angin berhembus perlahan, membuat kami betah berlama-lama duduk di tempat itu tanpa suara, hanya ingin menikmati suasana sore itu. Aku menarik nafas panjang dan mulai bersuara, “jadinya aku gak ikut acara BFM ke Sumatra Utara Rid”. “oooh.. gitu?”, Rida yang dari awal sudah tahu kesulitanku menjawab dengan nada seolah ikut merasakan apa yang aku rasakan. Kami pun kembali diam.

Tak berapa lama, HPku bergetar. “Ada telepon”, aku masih sedikit kaget karena suara HP itu memecahkan keheningan kami. Aku langsung membuka tasku dan dengan cepat menemukan letak HP itu. “Hah, mbak Umi nelpon. Ada apa ya?”. “Udah, buruan angkat aja!”, perintah Rida sambil melihat layar HPku. Kami sama-sama kaget karena jarang-jarang mbak Umi, pegawai administrasi jurusan kami menghubungi mahasiswa. Aku semakin bertanya-tanya karena pada saat itu posisiku sudah bukan mahasiswa lagi, melainkan alumni. “Semoga bukan karena ada masalah”, doaku dalam hati.

“Assalamu’alaikum.. Mbak Umi, ada apa ya?

“Haloo, Dita san ya? Ini Pak Stedy”, terdengar jawaban dari ujung sana.

“Oh, Stedy sensei. Maaf, saya kira mbak Umi. Ada apa sensei?”, tanyaku sedikit grogi karena sudah lama tidak berbicara dengan ketua jurusanku itu.

“Ini, Dita san dapat beasiswa tapi belum diambil ya?

“Hah?, beasiswa apa sensei?”

Lalu beliau menjawab singkat dan meminta saya untuk segera datang ke kantor pusat.

“Tapi sensei, Saya kan sudah lulus?Apa masih bisa diurus?”

“Datang saja ke kantor pusat, nanti ditanyakan di sana”

“Iya sensei, terima kasih banyak!”

Aku masih tidak percaya dengan telepon yang baru saja ku terima tadi. “Ini keajaiban Rid, benar-benar keajaiban!”, aku menggebu-gebu berkata pada Rida. “Iya dit, segera diurus aja! Ayo aku anterin ke kantor pusat!”

Kami pun segera melangkah bersama ke tempat yang kami hendak tuju itu dan tak henti-hentinya mengucap syukur. Aku lalu teringat sesuatu bahwa beberapa bulan lalu, saat aku mengerjakan skripsi, aku pernah membaca pengumuman di website akademik kampusku bahwa aku mendapat beasiswa. Tapi karena kesibukan skripsi, aku benar-benar melupakan itu tanpa ku sengaja. Tapi, hari ini, Allah mengingatkanku pada saat yang sangat tepat. “Subhanallah, rencana Allah indah sekali ya Rid?”. “Iya, dit!”. Kami tersenyum lebar.

Di kantor pusat, kujumpai namaku ada di daftar penerima beasiswa itu. Lalu ku tengok nominal yang tertera di sana. Alhamdulillah cukup untuk ongkos ke Sumatra Utara, lebih bahkan, hehe. Aku langsung mengambil HPku, ku ketik sms ”InsyaAllah jadinya aku ikut”. Ku kirim ke nomor mbak Niniek, salah seorang teman di BFM. Alhamdulillahhirabbil ‘alamin. Ya Allah, ini sungguh keajaiban-MU!

Sesuai rencana, kami, tim BFM Asahan, Sumatra Utara berangkat dari Jogja hari Rabu sore tanggal 25 Januari. Ini adalah pejalanan BFM paling heboh sekaligus paling lama. 14 orang jumlah tim kami; Aku, Niniek, Tya, Russel, Arni, Bulan, Ve, Bagus, Ivan, Sogi, Halim, Sholeh, Lambang dan Faqquh. Semua berangkat dengan penuh semangat.

Untuk menghemat beaya, perjalanan Jogja-Jakarta kami tempuh dengan kereta api kelas ekonomi. Cukup dengan Rp 35.000 kami sudah bisa sampai di Jakarta. Di kota itu, kami menginap semalam di rumah Faqquh.

Penerbangan kami ke Medan dibagi menjadi 2 kloter. Maklumlah, kami memakai tiket yang sedikit murah sehingga harus rela mendapat jadwal penerbangan paling pagi dan paling malam. 7 orang berangkat jumat pagi jam 08.00 dan 7 orang lagi jam 06.00 petang masih dalam hari yang sama. Di hari itu, kami menginap di Medan, rumah Uwak mbak Russel.

Sabtu pagi kami bertolak menuju Pematang Siantar, rumah mbak Tya. Sebagian naik mobil pinjaman dari Uwak mbak Rusel dan sebagian naik bus. 3 jam perjalanan yang kami butuhkan  dari Medan ke Siantar. Bagiku, ini adalah perjalanan yang sangat menarik karena untuk pertama kalinya aku melewati kota-kota yang biasanya hanya aku dengar dari buku-buku, Koran dan TV. Medan, Tebing Tinggi, Deli serdang, Serdang Bedagai, Pematang Siantar, Simalungun dll. Jajaran perkebunan karet dan kelapa sawit di kanan dan kiri jalan menghiasi hampir seluruh perjalanan kami. Pemandangan yang belum pernah aku temukan di Jawa.

Setelah menginap semalam di Siantar, kami menuju Kisaran, ibukota kabupaten Asahan. Di kota itu kami disambut hangat oleh Tante dari mbak Rusel. Semalam pula kami menginap di sana.  Esok harinya, baru kami datang ke Dinas Dikpora Kabupaten Asahan untuk memberitahuakan tentang kegiatan kami.

Setelah menginap di beberapa loksi yang berbeda itu, akhirnya Senin sore, 30 Januari kami tiba di sekolah kami, SD Inpres 017725 Buntu Pane, Dusun Sido Rukun, Desa Sionggang, Kecamatan Buntu Pane, Asahan, Sumatra Utara. Sejenak kuedarkan pandangan ke sekeliling sekolah itu sambil berucap syukur, “Alhamdulillah kami akhirnya tiba di sini”. Damai sekali rasanya setelah tiba di sekolah yang kokoh berdiri di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit itu.

Karena sudah sore, sekolah yang hanya memiliki 4 ruangan itu tampak sepi. Tapi di lapangan sepak bola yang tebentang di depannya, ramai dengan sekelompok pemuda yang tengah asyik bermain bola.

Secara bangunan fisik, sekolah ini bisa dikatakan sudah cukup bagus. Keempat ruangannya sudah berupa bangunan permanen.  3 ruang untuk ruang kelas dan 1 untuk ruang guru. Masing-masing ruang kelas disekat menjadi 2 bagian karena dipakai sekaligus untuk dua kelas. Pembagiannya, kelas satu seruangan dengan kelas 2, kelas 3 dengan kelas 4 dan kelas 5 dengan kelas 6.

Saat pelajaran berlangsung, kelas yang berada pada ruangan yang sama tentu saling terganggu walaupun jumlah murid di masing-masing kelas tidaklah banyak. Namun, karena sudah menjadi kebiasaan, para guru dan murid sudah tidak terlalu menganggap ini sebagai masalah yang besar. Mereka masih sangat bersyukur karena gedung yang sekarang mereka tempati itu adalah gedung baru. Ini jauh lebih baik dari gedung sebelumnya.

Di sekolah mungil ini, ada 43 anak yang tiap hari datang menimba ilmu. Masing-masing kelas, dari kelas 1 sampai kelas 6 mempunyai 1 wali kelas. Semua murid dan guru menyambut kedatangan kami dengan sambutan yang sangat hangat setelah mengetahui maksud kami untuk membuat sebuah perpustakaan dan seminggu mengajar di sana.

Selama seminggu di sana, kami menempati rumah dinas guru yang sudah beberapa tahun tidak ditempati. Karena sudah lama tidak ditempati, di rumah ini tidak ada penerangan satu pun. Jadilah malam pertama kami di sana harus diisi dengan kegiatan memasang lampu dan bersih-bersih. Pak Supratman, kepala sekolah baik hati yang bertempat tinggal tidak jauh dari sana turut membantu kami malam itu. Istri beliau juga tak kalah baik. Beliau meminjamkan dua buah tikar besar sebagai alas kami tidur dan perlengkapan untuk memasak, dari kompor, panci, penggorengan, baskom hingga alat-alat makan seperti sendok, piring dan gelas. Kami benar-benar merasa terbantu.

Di satu ruangan dari 3 ruang yang ada di rumah yang kami tempati itu, kami meletakkan sebuah rak buku yang kami buat sendiri dua hari setelah tiba di sana. Rak sederhana ini adalah tempat kami memajang 160 buah buku yang kami bawa dari Jogja. Agar suasana ruangan ini nampak menarik bagi anak-anak, kami mengajak anak-anak menggambar di tembok ruangan ini dengan cat minyak. Lucu sekali melihat mereka dengan semangat mengoreskan kuas di tembok, menggambar sesuka mereka, menuliskan nama mereka. Tidak hanya di tembok bagian dalam, di bagian luar pun anak-anak dengan antuasis menggambar apapun yang mereka inginkan. Warna-warni, sangat cantik dan lucu.

Di bagian atas tembok yang tidak terjamah oleh gambar cat minyak itu kami tempelkan hasil karya anak-anak selama kami mengajar di sana; berbagai bentuk origami, papper quiling, kerajinan flannel, kerajinan dari stick dan gambar anak-anak di atas kertas. Tak ketinggalan 2 buah peta yaitu peta Indonesia dan peta dunia turut menambah semarak ruangan perpustakaan kami itu. inilah persembahan kami BOOK FOR MOUNTAIN; sebuah perpustakaan mini untuk SD Inpres 017725 Buntu Pane, sekolah yang sejak tahun 1983 berdiri belum pernah memiliki perpustakaan.

Selain pengadaan perpustakaan, program utama kami di sana adalah seminggu mengajar. Kegiatan seminggu mengajar ini kami bagi menjadi 3 waktu yaitu pagi di sekolah, sore di rumah anak-anak dan malam di rumah kami tinggal sementara. Materi utama yang kami sampaikan adalah ketrampilan-ketrampilan dan membaca buku bersama sebagai upaya menumbuhkan minat baca pada anak-anak sekaligus mengajak mereka untuk senang terhadap buku. Ketrampilan-ketrampilan itu antara lain papper quling, kerajian dari kain flannel, origami, ecomonopoly, kesenian Randai, membaca puisi dan permainan-permainan edukatif.

Selain mengajar, ada 2 buah kegiatan tambahan yaitu outbond dan pentas seni saat hari terakhir kami di sana.  Semua berjalan sangat menyenangkan. Tapi, saat outbond, ada sebuah masalah kecil. Isma, seorang siswi kelas 6 menangis saat tiba di pos 5. Saat itu dia bertugas sebagai pemimpin dan kebetulan saya sebagai pendamping kelompoknya. Dia menangis karena ada salah seorang anggota kelompoknya yang mengejeknya. Tidak hanya itu, mungkin dia merasa minder juga karena sejak di pos pertama hingga pos ke 5 ini kelompoknya belum pernah menang. Aku sebagai pendamping kelompoknya cukup bingung karena harus membujuk Isma agar berhenti menangis sekaligus harus membesarkan hati anggota kelompok agar tetap bersemangat walaupun belum pernah sekalipun menang. Untungnya, mbak Russel sebagai penjaga pos 5 membantuku untuk menenangkan Isma. Sampai pos terakhir, Isma masih tetap diam, tidak mau mengikuti rangkaian acara selanjutnya. Beberapa teman kami ikut membujutnya, tapi ia tetap tak bergeming. Perlu waktu lama hingga akhirnya ia mau kembali tersenyum saat pengumuman bahwa kelompoknya mendapat hadiah sebagai kelompok paling sportif.

Sejak awal tiba di sana, kami sudah mendengar cerita tentang Isma yang mempunyai masalah krisis percaya diri yang akut. Dari cerita-cerita itu kami tahu bahwa masalah ini adalah sebagai akumulasi dari pandangan negative tentangnya dari orang-orang di sekitarnya termasuk teman-teman, guru dan orang tuanya. Di sekolah, gurunya melabelinya sebagai anak bodoh sehingga sangat sering mendapat tamparan dari gurunya. Di rumah ,orang tuanya menganggapnya sebagai anak yang suka ngambek dan agak lemah menerima pelajaran. Pandangan-pandangan itulah yang membuatnya mengalami krisis percaya diri, mudah minder dan kurang mau bergaul.

Di sore hari setelah outbond, kami bertiga, aku, Mbak Rusel dan Mbak Ve mengungjungi Isma di rumahnya untuk memastikan apakah ia masih ngambek atau tidak. Saat kami tiba di rumahnya beberapa anak sedang berkumpul dan bermain bersama-sama. Dan kami temukan Isma ada diantara mereka, terlihat cerah wajahnya. Ia beserta teman-temannya itu tampak bersemangat menyambut kami. Aku dekati dia dan melontarkan beberapa pertanyaan untuk memastikan bahwa ia sudah baik-baik saja. Setelah sedikit memberinya semangat dan yakin bahwa dia sudah kembali tersenyum, kami sangat lega.

Secara umum, anak-anak di sekolah yang kami kunjungi itu sangat bersemangat mengikuti rangkaian kegiatan dari kami. Sayang, kami hanya seminggu bisa membersai mereka. Akhirnya, kami pun harus meninggalkan mereka. Di hari terakhir, kami mengadakan acara peresmian perpustakaan yang dihadiri oleh seluruh guru, kepala sekolah, perwakilan Dinas Pendidikan, perwakilan UPT dan yang paling penting adalah para wali murid. Baru kali ini, acara perpisahan BFM dihadiri oleh wali murid. Kami merasa senang sekali atas antusiasme mereka memenuhi undangan kami yang hanya kami tulis secara manual. Maklum, tidak ada tempat untuk fotocopy di sana. Tidak hanya itu, para wali murid juga masing-masing membawa makanan sebagai suguhan acara perpisahan tersebut. Dan yang paling membuat kami terharu adalah, saat acara hampir selesai, para orang tua secara suka rela tanpa kami minta, mengumpulkan uang yang kemudian diberikan kepada kami. “sedikit tambahan untuk ongkos”, begitu kata mereka. Entah apa yang menggerakkan mereka untuk melakukan itu. Kami hanya bisa berucap, “terima kasih, Pak, Bu….”.







Tidak ada komentar: