Translate

Senin, 09 Maret 2015

Cermin

Pagi yang hampir selalu sama. Jutaan warga ibukota bangun pagi, bersiap-siap mengusahakan rezeki. Macam-macamlah yang dikerjakannya. Tak lama bersiap, berduyunlah mereka ke jalan dengan cara masing-masing.  Dan tentu saja dengan membawa perasaan yang lain-lain pula. 

Sambil melewati 17 km jarak menuju tempat kerja, saya mengamati aneka rupa para tokoh cerita pagi hari yang berlatar di jalanan itu. Larutlah saya dalam emosi yang bercampur-campur. Saat berpapasan dengan penjual air keliling misalnya. Maka otak saya pun selalu berimajinasi dengan sejumlah pertanyaan. Harga jual 1 jirigen air hanya Rp 2000, setiap gerobak ia hanya bisa memuat 10 atau 12 jirigen, berapa keuntungan yang ia dapatkan? Dalam sehari berapa jirigen yang berhasil ia jual? Apakah anak-anaknya bisa hidup cukup dengan penghasilan tersebut? Rumahnya dimana dan seperti apa? Dan imajinasi tentang penjual air itupun baru akan diakhirkan setelah ada tokoh lain yang menarik perhatian saya.

Lagi-lagi, saya selalu lebih tertarik memperhatikan tokoh-tokoh yang tampak berjuang sangat keras menyambung hidup. Pasukan penyapu jalan misalnya. Sebelum jam 07.00 pagi, hampir semua ruas jalan raya yang saya lewati sudah bersih, semua sampah sudah disapu bersih oleh pasukan berseragam oranye itu. Jam berapa mereka mulai menyapu jalan? Apakah mereka sudah sarapan sebelum mulai bekerja? Apakah mereka tidak terganggu dengan debu jalanan yang beterbangan di sekitar ayunan sapunya? Berapa kilometer luas jalanan yang mereka bersihkan setiap harinya?  

Tiap kali membayangkan pertanyaan yang berupa-rupa itu, sesungguhnya saya sedang diberikan kesempatan untuk sejenak menekur dan mengambil hikmah. Jika saya mengeluh karena setiap hari harus pergi bekerja pagi-pagi dan pulang petang, maka di luar sana banyak orang yang harus bangun dan berangkat lebih pagi, bahkan sebelum terbit fajar. Jika saya sedang dengan kecut membandingkan penghasilan saya dengan teman-teman yang berpenghasilan di atas saya, maka di luar sana ada yang kesulitan untuk sekedar mencari makan. Jika saya lelah dengan pekerjaan saya, maka sekali lagi diluar sana ada ribuan atau bahkan jutaan orang harus rela kulitnya menghitam legam dan mandi keringat hanya sekedar untuk mengumpulkan keuntungan berupa mata uang lembaran yang umumnya sudah sangat lusuh. 

Dan saat menulis ini, terbayang dalam benak saya tokoh-tokoh jalanan lainnya. Bapak tuna-netra penjual kerupuk, kakek penjual buah, bapak penjual tisu, supir kopaja dan metromini, ibu-ibu penjual nasi uduk, polisi cepek pengatur jalan, para tukang ojek, buruh pabrik, semua sedang sama-sama bekerja keras. Jadi, apakah kita --yang sepertinya setingkat lebih beruntung ini-- pantas untuk mengeluh dan enggan bekerja keras? Sungguh, dari mereka kita bisa bercermin dan mengambil pelajaran. 

                                                                                                         ***
Pesan : Yuk kita sisihkan sebagian rupiah kita untuk membeli apa yang mereka jajakan! Entah sebungkus tisu, seikat rambutan atau sebotol air mineral. Setidaknya, itu adalah penghargaan kita terhadap usaha mereka yang bekerja keras dan tidak menjadi peminta-minta. 

Tidak ada komentar: