Translate

Jumat, 13 Maret 2015

Tentang Menulis

Beberapa teman berkomentar pada saya, "akhir-akhir ini rajin banget nulis, Dit!" Saya biasanya langsung merespon, "Mumpung masih single dan gak ada kegiatan selain ngantor, hehe." Itu jawaban spontan saya yang kalau dipikir-pikir lagi ada benarnya tapi ya tidak sepenuhnya benar. Ada banyak alasan mengapa saya kemudian menjadi lebih sering menulis.

Saya sebenarnya sudah sejak tahun tahun 2011 menulis di blog. Namun, tulisan saya kebanyakan bernada galau. Blog adalah media saya untuk meracau, curhat dan menumpahkan isi hati. Alhasil, tulisan yang saya post di blog pun banyak yang menguarkan perasaan negatif bagi pembacanya. Capek, ditulis di blog. Marah, ditulis juga. Sakit hati, apalagi. Lagi galau, tak mungkin tak ditulis. Intinya, sebagian besar tulisan saya berisi ungkapan perasaan yang tidak mengenakkan. Dan karena hanya berisi hal-hal seperti itu, saya tidak pernah membagi tulisan saya ke media sosial macam Facebook atau Twitter.


Time goes by dan tulisan saya masih macam itu-itu saja.  

Pertengahan tahun lalu (2014), saya menonton serial drama Jepang berjudul 1 Litre of Tear untuk ke sekian kalinya. Ada yang tau drama itu? Pasti banyak yang tau karena drama tersebut sangat terkenal di Indonesia ketika saya SMP. Drama yang di Indonesia pernah dibuat versi kloning-nya tersebut diambil dari kisah nyata seorang anak perempuan Jepang yang menderita penyakit langka yang membuat syaraf geraknya perlahan berhenti berfungsi hingga akhirnya lumpuh total.


Dalam sebuah adegannya, Aya, tokoh utama penderita penyakit langka tersebut mengeluh kepada ibunya tentang penyakitnya. "Kenapa penyakit ini memilihku? Dengan tubuh yang semakin lama semakin tidak bisa digerakkan seperti ini, apa aku bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain? Yakuni tachitai yo! Aku ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk orang banyak! Begitulah keinginan Aya.


Lalu sang Ibu menunjukkan buku-buku harian Aya yang ditulis sejak Aya remaja. Ibunya menjelaskan bahwa Aya memang tidak bisa melakukan banyak hal, tapi buku harian Aya sudah dibaca dan memotivasi banyak orang. Itu artinya hidup Aya sudah berguna untuk banyak orang.


Tiba-tiba saya teringat dengan tulisan-tulisan saya di blog. Alih-alih memotivasi orang, isi blog saya justru memperkeruh hati setiap orang yang membacanya. Ah, malu sekali saya!


Sejak itu saya kemudian menghapus tulisan-tulisan saya yang banyak berisi curhatan perasaan pedih perih itu. Saya bertekad sejak saat itu saya mau menulis dengan baik dan sebisa mungkin bermanfaat untuk orang lain. Atau setidaknya bisa bermanfaat untuk diri saya sendiri jika suatu saat saya baca kembali.


Saya jalan-jalan ke blog teman-teman saya dan blog yang tertaut dengan blog teman-teman saya. Saya baca baik-baik blog mereka dan mulai belajar menulis dengan kaidah yang benar, baik secara tata bahasa maupun secara content. Sebagaimana ungkapan “man saara ala darbi washala” (siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan), saya pun sepertinya menemukan jalan untuk mencapai keinginan saya. Dari kegiatan blog walking tersebut saya menemukan banyak sekali motivasi untuk menulis. Dari blog Kak Hety misalnya, saya membaca satu kutipan yang ia nukil dari Pramudya Ananta Tour, "Jika umurmu tak sepanjang umur dunia, sambunglah dengan tulisan...". Lalu, dari blog Bang Fahd Pahdepie, "Selalu ada kisah hidup luar biasa yang ceritanya belum pernah dituliskan pengarang manapun, belum pernah difilmkan oleh produser dan sutradara manapun. Mungkin itu adalah kisah hidupmu sendiri."


Membaca quote dari bang Fahd tersebut, terbit semangat untuk menulis hal-hal yang saya temui dan alami dalam kehidupan sehari-hari yang mana telah membuat saya belajar dan terinspirasi. Saya juga menjadi bersemangat untuk menuliskan kisah orang-orang di sekitar saya yang sudah menginspirasi saya. Sayang sekali jika kisah-kisah hebat mereka tidak diabadikan dalam bentuk tulisan yang bisa dibaca oleh banyak orang.


Beberapa lama berselang, ada beberapa alumni Pengajar Muda yang mempunyai ide untuk membuat grup belajar menulis. Saya pun cepat-cepat bergabung. Dari sana saya mendapat banyak ilmu tentang kepenulisan. Lalu, tak lama setelah itu, saya saksikan tayangan talkshow di salah satu TV swasta yang saat itu mengundang Asma Nadia sebagai narasumbernya. Di akhir acara, penulis yang sudah menulis puluhan buku best seller dan beberapa darinya sudah diangkat ke layar lebar ini menegaskan tentang motivasi beliau dalam menulis. "Saya menulis untuk berbagi, sebagai kado buat umat."


Innamal a'malu binniat wa innama likulliriin ma nawa... (Sesungguhnya segala perbuatan itu disertai dengan niat dan segala perkara itu tergantung apa yang diniatkan...). Begitulah isi potongan hadist arbain yang pertama. Lalu, niat apa yang saya genggam dalam menulis? Bismillah, saya menulis dengan niat untuk berbagi motivasi, inspirasi dan semoga bisa menjadi amal jariyah saya di akhirat nanti. Maka, jika suatu saat nanti tulisan saya sudah mulai keluar dari niat, mohon pembaca mengingatkan saya ya! :-)

Saat ini saya memang masih punya banyak waktu luang sehingga bisa menulis dengan cukup aktif. Nanti, ketika saya sudah berkeluarga, mungkin waktu luang saya akan berkurang karena kesibukan saya bertambah dengan mengurus rumah tangga. Walaupun begitu, saya tetap ingin menyempatkan waktu untuk menulis. Semoga istiqomah ya!



Tidak ada komentar: