Translate

Selasa, 24 Maret 2015

Galeri Indonesia Kaya

Edu-tainment a.k.a wisata edukasi mulai menunjukkan geliat perkembangannya di kota-kota besar, tak terkecuali di Jakarta. Aktor pengembangnya tidak melulu pemerintah tetapi swasta pun kini sudah memperlihatkan perannya. Djarum Foundation misalnya. Melalui program Bakti Budaya-nya, Djarum Foundation menginisiasi sebuah galeri seni di West Mall, Grand Indonesia. Galeri ini diberi nama Galeri Indonesia Kaya (GIK). (Maaf, saya tidak hendak mempromosikan perusahaan rokok, perusahaan yang sangat debatable).

Saya pertama kali mengunjungi galeri ini beberapa bulan yang lalu. Tempatnya tidak terlalu besar, hanya ada 2 ruang utama yaitu ruang pameran dan auditorium. Di ruang pameran tersedia layar-layar digital yang berisi berbagai informasi, gambar-gambar tentang budaya dan alam Indonesia. Tak ketinggalan juga aplikasi permainan tradisional dan foto dengan pakaian adat. Aplikasi tersebut terkoneksi dengan media sosial sehingga pengunjung bisa mengunggah aktivitas mereka saat menggunakan aplikasi tersebut. Semua fasilitas itu sangat menarik dan edukatif. Cocok untuk segala usia. Info lebih jelasnya bisa dilihat di sini http://www.indonesiakaya.com/galeri-indonesia-kaya/fasilitas

Jika ruang pameran dibuka setiap hari, maka ruang auditorium yang mampu menampung 150 penonton itu hanya dibuka secara berkala, yaitu saat digelar pagelaran musik, tari, pemutaran film, diskusi budaya, monolog dll. Kegiatan tersebut umumnya digelar pada hari Sabtu dan Minggu. Jadwal kegiatan untuk 1 bulan bisa dilihat di website yang sama dengan yang saya tautkan di atas.

Sejak pertama kali pergi ke sana, saya menjadi sering membuka website Galeri Indonesia Kaya untuk melihat jadwal pementasan. Hampir semua pementasan yang digelar itu menarik bagi saya. Namun, saya hanya akan pergi ke sana jika waktu saya memungkinkan. Seperti Sabtu lalu (23/3), Saya dan sahabat saya, Rida, sedang punya waktu luang sehingga bisa pergi ke sana untuk menonton pementasan tari "Jiwaku Tansah Hambeksa" karya koreografer dari Universitas Negeri Jakarta, Kristiono Soewardjo.

Tempat yang nyaman, fasilitas yang berteknologi tinggi dan layanan gratis untuk semua fasilitas dan kegiatan, mungkin yang membuat GIK hampir selalu ramai pengunjung, terlebih akhir pekan. Untuk kegiatan tertentu bahkan tiketnya sudah habis terpesan secara online beberapa hari sebelum kegiatan diadakan. Seperti Sabtu kemarin saat saya dan Rida berencana akan menonton pementasan tari itu, kami sudah kehabisan tiket. Jadilah kami harus datang ke GIK 1 jam sebelum acara untuk mendaftar di kursi waiting list. Untungnya kami tetap bisa masuk dan menyaksikan pementasan lima judul tari karya koreografer Kristiono Soewardjo itu. :-)






Tidak ada komentar: