Translate

Senin, 06 Juli 2015

Menikah untuk Meraih Surga (Part 1)

Tulisan kali ini adalah resume kajian di Masjid Bank Indonesia, 5 Juli 2015 yang bertajuk "Menikah untuk Meraih Surga". Di kajian yang dimulai pada pukul 08.30 sampai 14.00 ini, tiga orang pembicara yaitu Ust Arifin Nugroho, Ustadzah Sitaresmi S Soekanto dan Ust Bendri Jaisyurrahman hadir dan memberikan materi yang super ciamik. Kajian ini bukan hanya ditujukan bagi yang belum menikah melainkan juga untuk pasangan yang sudah menikah lho! Penasaran dengan materi yang disampaikan? Check this out ya! :-)

Materi 1 : Sakinah, Mawaddah dan Rohmah (Ustadz Arifin Nugroho, Lc)

Di sesi pertama ini, pembicara membahas tentang makna "sakinah, mawaddah dan rohmah". Secara bahasa, sakinah berarti ketenangan. Di dalam keluarga itu salah satu yang paling penting adalah saling memberikan ketenangan antara suami dan istri. Sebagai contoh, Khodijah yang selalu memberikan ketenangan ketika Rasulullah menghadapi suatu perkara yang sulit. Dikisahkan saat pertama kali Rasulullah bertemu dengan malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu Allah yang pertama, Rasulullah menggigil ketakutan. Keringat dingin bercucuran. Beliau kemudian cepat-cepat pulang ke rumah dan berkata kepada Khodijah, istrinya "selimuti aku! selimuti aku!" Khodijah pun segera menyelimuti sang suami tanpa banyak bertanya. Ini tidak lain untuk memberikan ketenangan pada sang suami yang tengah dilanda kepanikan. Apa jadinya jika Khodijah saat itu ikut panik sambil mengeluarkan serentetan pertanyaan? Mungkin situasinya justru akan semakin keruh.

Selanjutnya tentang mawaddah yang berarti rasa cinta. Rasa cinta ini timbulnya dari ketertarikan fisik. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam pernikahan itu ketertarikan fisik adalah hal yang perlu diperhatikan walaupun bukan yang paling utama. Setelah kita menikah, kita tetap perlu memperhatikan penampilan fisik kita untuk menjaga mawaddah dari pasangan kita. Ada orang yang ketika keluar rumah tampil sangat maksimal tetapi ketika di rumah sangat seadanya. Kebiasaan itu perlu diubah. Ketika di rumah kita tetap harus tampil bersih, wangi, dan menarik. 

Jika mawaddah adalah rasa cinta yang dilandaskan pada ketertarikan fisik, maka rohmah adalah rasa kasih sayang yang dilandasi keimanan kepada Allah SWT. Ada sebuah kisah seorang suami yang merawat istrinya yang sakit lumpuh selama bertahun-tahun. Si suami ikhlas merawat sang istri dan tidak menikah lagi. Semua ini sang suami lakukan karena rasa sayang yang dilandasi oleh keimanan kepada Allah. Ada sebuah kisah lagi seorang suami yang sangat sibuk sehingga kurang memperhatikan istri dan anak-anaknya. Hingga pada suatu hari sang suami jatuh sakit di rumah sakit selama berbulan-bulan. Sang istrilah yang secara penuh merawat sang suami hingga sang suami menyadari betapa besar kasih sayang istrinya itu padanya. 

Mencipkatan sakinah, mawaddah dan rohmah dalam rumah tangga itu bukanlah perkara yang mudah karena setan akan sekuat tenaga memisahkan ikatan pernikahan suami-istri. Di kalangan para setan, keberhasilan menceraikan sepasang suami-istri adalah prestasi yang berada di level yang tinggi. Godaan untuk menggoyahkan ikatan pernikahan itu selalu ada. Godaan yang menciptakan konflik yang muncul dari salah satu pihak, suami atau istri. Konflik yang berupa kemarahan misalnya. Jika istri sedang marah, maka sebaiknya suami tidak terpancing untuk ikut marah. Begitu pun sebaliknya.

Diceritakan suatu hari salah seorang sahabat datang ke rumah Kholifah Umar ibn Khotob. Sahabat tersebut berencana akan mengadukan istrinya yang sangat cerewet dan suka memarahinya. Saat berada di depan pintu rumah sang Kholifah, sahabat tersebut mendengar sang Kholifah sedang dimarahi istrinya. Sahabat tersebut kaget dan bergegas pulang. Namun, saat ia melangkah pulang, sang Kholifah keluar dan bertanya kepada sahabat tersebut apakah ada keperluan yang hendak disampaikan kepadanya. Awalnya sahabat tersebut tidak mau bercerita tetapi akhirnya ia bercerita setelah didesak oleh sang kholifah. Setelah ia bercerita tentang kondisi rumah tangganya, ia bertanya kepada sang Kholifah mengapa sang Kholifah diam saja ketika istrinya marah. Maka, jawab Kholifah, "Cerewetnya istri saya ini tidak sebanding dengan betapa besarnya pengorbanan istri saya pada saya. Saya bisa tampil dengan gagah di depan umum itu karena pakaian dan makanan yang semuanya disiapkan oleh istri saya dengan sepenuh hati."

Setiap orang memiliki kekurangan. Ada yang mudah marah, tidak rapih dan seterusnya. Tugas pasangan dalam pernikahan adalah sebagai pakaian satu sama lain, artinya adalah sebagai pelindung dan penutup aib sekaligus sebagai penghias satu sama lain. Jika kita melihat ada satu kekurangan pada pasangan kita, maka kita sebaiknya melihat kekurangan itu dengan kaca mata dokter, yaitu mengobati/memperbaiki dengan penuh kasih sayang. Sebaliknya, jika kita melihat "potensi baik" pada pasangan kita, maka tugas kita adalah memotivasi dan melejitkan potensi pasangan kita.

Duh, sudah panjang sekali tulisan ini, padahal masih ada dua pembicara lagi. Daripada kita pusing pala berbie membaca tulisan yang terlalu panjang, materi dari dua pemateri lainnya insyaAllah saya tulis di Part 2 dan Part 3 ya, hehe... Just wait!:-)


sumber gambar : ibnuabbaskendari.wordpress.com 

Tidak ada komentar: