Translate

Senin, 05 Oktober 2015

Setelah Lima Tahun


"Siapapun kita, pasti ingin menikah dengan orang yang dicintai. Bukankah begitu? Lalu, sebelum menikah kita pasti ingin hidup bersamanya sampai kapanpun. Kita sering mendengar banyak pasangan berkata semacam, “Aku tidak bisa hidup tanpamu” atau “Bagaimanapun jangan pernah membiarkanku sendirian!” Pada saat sebelum menikah, ungkapan semacam itu sering diucapkan. Namun, setelah menikah setahun, 3 tahun, atau 10 tahun, mengapa banyak pasangan kemudian memutuskan untuk bercerai? 

Baru-baru ini baik di Jepang maupun di Indonesia ada kecenderungan meningkatnya jumlah pasangan yang bercerai. Menurut Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang, dikatakan bahwa pada tahun 2008 terdapat 251.000 pasangan yang bercerai. Sementara itu, menurut Kementerian Agama Indonesia, dikatakan bahwa pada tahun 2009 terdapat 250.000 pasangan yang bercerai. Bukankah kelihatannya hampir sama? Akan tetapi, karena jumlah penduduk Jepang lebih sedikit daripada Indonesia, bisa disimpulkan bahwa rasio perceraian di Jepang lebih tinggi daripada di Indonesia. Dari tahun ke tahun, angka perceraian itu terus bertambah. Ini adalah masalah sosial yang cukup serius. 

Saya menaruh minat yang cukup besar terhadap angka percerian yang terus meningkat ini. Saya kemudian mencoba membaca berbagai data berkaitan dengan masalah ini. Dari data-data tersebut saya menjadi tau bahwa pada dasarnya alasan perceraian itu bermacam-macam. Akan tetapi, jika diambil tiga alasan utamanya, yang pertama adalah karena perselingkuhan. Lalu yang kedua adalah kekerasan dalam rumah tangga. Tentang kekerasan dalam rumah tangga ini, akhir-akhir ini banyak koran dan televisi Indonesia sering memberitakannya. Inilah yang membuat istri menggugat cerai suaminya. Selanjutnya, alasan ketiga adalah ketidakcocokan karakter. Perbedaan pendapat dengan pasangan memicu terjadinya pertengkaran sehingga pada akhirnya kemungkinan untuk bercerai menjadi tinggi.

Setelah bercerai, di antara pasangan suami istri yang sudah berpisah ini timbul permasalahan baru. Masalah itu adalah tentang anak. Setelah orangtuanya bercerai, yang menjadi masalah adalah anak-anak akan tinggal dengan ayah atau ibu. Ada anak-anak yang kemudian menjadi rebutan orangtuanya. Itu membuat anak-anak sedih. Bagi mereka, perceraian orangtua tidak akan pernah mereka lupakan sampai kapanpun. Bagi anak-anak kecil, perceraian orangtua akan menjadi penghambat perkembangan mental mereka. Berbagai macam pengaruh negatif dari perceraian orangtua itu akan tertinggal sebagai luka di hati mereka.

Sejak setahun yang lalu saya menaruh minat terhadap perkembangan anak-anak. Kenapa demikian, ini karena saya mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak SD di sebuah tempat kursus. Sebagai guru, tidak hanya melihat prestasi belajar, saya merasa perlu memperhatikan karakter dan sikap murid-murid saya. Saya kemudian merasa ada perbedaan sikap dan karakter anak-anak yang orangtuanya bercerai. Ketika sedang belajar, anak-anak ini cukup sering melamun. Tidak hanya itu, mereka mudah marah dan agresif. Prestasi belajarnya pun secara umum kurang bagus.

Saya mengerti perasaan anak-anak seperti mereka. Sebenarnya, saya sendiri pernah mengalaminya. Dulu saya sering bertanya-tanya pada diri sendiri, “Kenapa saya berbeda dengan anak-anak lainnya? Kenapa saya tidak bisa memiliki kehidupan seperti anak-anak lainnya?” Lama saya berfikir hingga akhirnya saya menemukan jawabannya. “Apakah saya memang butuh hidup sebagaimana anak-anak lain? Tidak, saya bisa hidup dengan cara saya sendiri. Saya adalah saya. Saya tidak akan pernah bersedih lagi!”. Inilah jawaban saya. Dengan afirmasi positif semacam itu saya menjadi bisa hidup dengan semangat. 

Dalam sebuah perceraian, yang paling merasa sangat bersedih adalah anak-anak. Oleh karena itu, sebelum bercerai, tolong benar-benar berfikir seratus, seribu atau sepuluh ribu kali. Jika timbul niat untuk bercerai, tolong benar-benar fikirkan perasaan anak-anak. Bagi anak-anak, tidak ada orang yang lebih penting daripada orangtua. Anak-anak ingin tinggal bersama ayah dan ibunya. Anak-anak kadang tidak bisa mengungkapkan semua itu tetapi dalam hati mereka berfikir seperti itu.

Saya ingin menyampaikan sesuatu kepada anak-anak yang orangtuanya bercerai. Apapun yang terjadi, kita tidak perlu lagi bersedih. Tuhan selalu menjagamu, juga membantumu. Ayo kita lewati hari-hari kita dengan bahagia. Di dunia ini ada banyak anak sepertimu. Kamu tidak sendirian. Banyak orang di sekitarmu yang menyayangimu. Hiduplah dengan mimpi-mimpi besarmu!"

                                                                                                        ***
Teks di atas adalah naskah pidato yang saya bawakan di sebuah acara nasional lima tahun yang lalu. Membaca kembali teks ini saya hampir tak percaya bahwa pada umur yang baru awal 20-an kala itu, saya bisa berbicara seperti itu.

Itu adalah pertama kalinya saya jujur kepada publik tentang keluarga saya. Orang-orang bertepuk tangan menyambut pidato saya, namun saya justru merasa ketakutan, "Tidakkah saya sedang mempermalukan diri saya di depan umum?" Namun semua sudah terlanjur. Pelan-pelan saya kemudian mulai membuka diri dan mengikis rasa malu dan minder tentang latar belakang saya. Proses yang panjang dan tak mudah. 

Lima tahun berselang, saya baru betul-betul menyadari efek pidato saya itu. Saya menjadi semakin percaya diri dan merasa tidak ada yang perlu ditutup-tutupi dari diri saya. Saya justru lebih banyak membagi pengalaman ini pada banyak orang sambil berharap ada pelajaran yang bisa tersampaikan pada mereka. 

Tidak ada komentar: