Translate

Sabtu, 19 September 2015

Rahmat untuk Kami

Stasiun Manggarai ramai lancar (macam jalan raya aja ya! hehe) Sabtu siang itu. Ah, tentu saja ini tidak seramai saat weekday, yang konon kata orang, mau jalan saja uyuk-uyukan, dempet-dempetan dengan ratuan atau ribuan penumpang lainnya. Itu hampir jam 11.00 saat saya tiba di stasiun yang namanya selalu mengingatkan saya dengan nama salah satu kabupaten di Flores sana: Kabupaten Manggarai Barat.

Clingak-clinguk saya mencari bangku kosong untuk duduk karena saya lelah, juga lapar setelah muter-muter ke beberapa tempat sebelum tiba di Stasiun Manggarai. Alhamdulillah, kursi yang dicari pun ada, sekonyong-konyong saya duduk dan segera membuka sebungkus mangga masak siap makan yang sebelumnya saya beli di depan Runah Sakit Carolus. Nyam-nyam, nikmatnya. Berhenti sudah konser Jazz dari dalam perut saya. Hehe.

Oh ya, saya belum cerita ini saya mau kemana, ya? Hehe, baiklah saya beri tahu (memangnya ada yang mau tau apa? ;-p). Jadi ceritanya siang itu saya ada janji dengan Vivi, Teh Nani dan Budi (suami Teh Nani) untuk pergi ke Tangerang bersilaturahim ke rumah teman kami, Faisal dan Savira (mereka ini pasangan suami istri). Saya berangkat dari Stasiun Manggarai, sedangkan tiga teman saya itu berangkat dari Stasiun Sudirman.

Kawan, saya beri tau (lagi?) ya. Sejujurnya, perjalanan kali ini cukup berat bagi saya. Saya sudah menduga pembicaraan apa saja yang akan kami bicarakan nanti di rumah Faisal dan Savira. Tema pertama, pasti seputar kehamilan Savira dan Teh Nani. Itu adalah tema yang saya haqqul yaqin, akan dibahas. Pembahasannya pun pasti akan sangat panjang, lebar plus mendetail. Tema kedua, pastilah tentang persiapan pernikahan Vivi yang hanya tinggal menghitung hari. Mereka punya cerita menarik tentang tahap kehidupan mereka, sedangkan saya? Hidup saya masih sama, belum ada cerita baru yang menarik untuk dibagi. Hiks.

Tapi, dengan kekuatan kame-kame dari Son Goku, saya mengusir semua perasaan iri hati dan minder yang mendera saya. Saya harus ikut, ini akan menjadi cara saya untuk meluaskan hati, begitu ikrar saya sesaat sebelum saya memutuskan untuk ikut ke Tangerang. Kenyataan itu pahit, tapi tetap harus dihadapi. Jika saya menghindari pertemuan ini, selamanya saya akan terjebak dalam perasaan iri dan minder yang entah sampai kapan akan mengendap di hati saya. 

Waktu pertemuan itu pun tiba. Tebakan saya tentang tema pembicaraan kami pun tak meleset barang sesenti juga. Saya mengikuti pembicaraan itu sambil sesekali menimpali sewajarnya, sepengetahuan saya. Padahal, dalam hati saya tak henti-hentinya menggumam, "Ya Allah, luaskan hatiku. Luaskan ya Allah."

Hari itu pun berlalu dengan indah. Senyum-senyum bahagia terpancar dari wajah kami, sambil berharap akan ada pertemuan semacam ini lagi di lain hari. Bagi saya pribadi, ada satu bonus kebahagiaan, yaitu hati saya terasa lebih luas dari sebelumnya. Satu celah sempit di hati saya kini sudah menjadi lebih luas. 

Mungkin inilah yang dinamakan berkah silaturahim. Semoga Allah memberikan rahmat untuk kita ya teman-temanku, Vivi, Teh Nani, Budi, Faisal dan Savira. Sampai jumpa di lain waktu dalam kondisi yang selalu semakin baik ya! Ja mata itsuka



2 komentar:

Lia Wibyaninggar mengatakan...

Mbak Ditaaaa, I feel you...
Aku juga pernah mengalami hal senada dengan yg Mbak Dita alami. Aku memang bahagia berkumpul dengan mereka, setelah sekian lama tidak bertemu, mereka teman2 satu kosan di Jogja dulu. Namun, ketika telah berkumpul di satu meja, mereka ramai membicarakan persiapan pernikahan dua teman kami yang tahun ini naik pelaminan, juga kehamilan teman kami yg satunya, pacarnya yang itu, blablabla. I just feel like... square peg in a round hole. :(

Namun, semuanya memang ada masanya. Tinggal bagaimana kita berusaha dan berdoa. :D

Perpustakaan Balita Ceria mengatakan...

Hahaa.. iya dek, betul baget. Kita jalani saja setiap fase hidup kita dengan amalan terbaik. Dan mungkin kita juga perlu belajar untuk "mengerti" perasaan teman-teman kita yang sedang sangat exited dengan fase barunya. Sangat wajar jika mereka sangat bersemangat untuk membahasnya, the new things that changed their life.