Translate

Senin, 21 September 2015

Surat dari Timur

Akhirnya, surat yang berhari-hari saya nantikan pun tiba juga, surat yang dikirim oleh bocah-bocah lucu di Timur jauh sana. Saat amplop dibuka, terlihat kertas warna-warni bertuliskan huruf-huruf yang mereka goreskan. Tangan saya sedikit gemetar. Senyum saya mengembang. Ada rasa gembira bercambur haru mendera.

Melihat berderet-deret huruf yang tertulis di atas kertas itu, membuat rasa haru semakin membuncah. Saya membayangkan bagaimana perjuangan bocah-bocah belia itu menggoreskan huruf demi huruf itu. Saya membayangkan posisi mereka memegang pena dan perlahan menulis, sembari memikirkan kata-kata apa yang mereka tulis. Mungkin juga saat itu mereka sembari memutar ulang ingatan tentang saya, bibinya yang sudah dua tahun tak mereka jumpai ini.

Lembar demi lembar kertas surat ini saya perhatikan betul-betul. Lembaran yang beberapa hari sebelumnya berada di tangan-tangan mungil mereka. Tiba-tiba saya mengimajinasikan sedang berada di tengah-tengah mereka, mendengarkan celoteh mereka yang bercampur-campur antara Bahasa Bima dan Bahasa Indonesia. Maka, ada rasa semacam ngilu di ulu hati saya. Ngilu yang dipicu oleh rindu.

Beberapa detik lamanya saya baru bisa duduk tenang dan mulai membaca lembaran-lembaran dari Timur jauh itu. Lembar pertama, dari Ayra. Tulisannya rapih, hampir tak ada kesalahan penulisan. Itu wajar karena Ayra baru saja naik ke kelas III. Ayra bercerita bahwa ia suka membaca buku-buku bacaan yang dulu saya tinggalkan. Semoga nanti Bibi Dita bisa kirimkan buku-buku buat Kakak Ayra dan yang lainnya ya! (Ambil post it, tulis "Buku untuk Ayra dkk, Oktober" dan tempel di kaca).

Suat ke-dua, dari Isma. Di amplop yang dibuat dari kertas buku tulis yang ditutup dengan stiker Hello Kitty mungil, tertulis "dari Isma buat bibi Dita di Tempat". Sama seperti Ayra, sekarang Isma sudah naik ke Kelas III. Isma bersekolah di Madrasah, sedangkan Ayra di SD Negeri. Isma menuliskan bahwa semester kemarin Isma mendapat Juara I. "Doakan Isma semoga Isma bisa dapat juara I lagi", begitu bocah ini melanjutkan tulisannya. 

Fiqa, yang baru saja naik kelas II, tidak kalah semangat dengan Kakak Ayra dan Kakak Isma dalam menulis surat. Bahkan, surat Fiqa lebih panjang dari kedua kakaknya. Bahasanya sangat mengalir. Banyak hal yang diceritakanya, tentang ia yang sudah bisa mandi dan memakai baju sendiri, ia yang baru saja punya adik laki-laki, tentang acara doa pemberian nama untuk adik laki-lakinya. Di akhir suratnya, Fiqa meminta saya mengirim surat lagi. 

Selain ketiga bocah ini, sebenarnya ada satu bocah lagi yang ingin menulis surat untuk Bibi Ditanya. Dia adalah Fais, adik Isma. Ibu angkat saya yang sekaligus nenek dari para bocah ini mengirimkan pesan singkat pada saya, "Fais nangis mau tulis surat juga buat Bibi Dita. Tapi dia baru bisa tulis namanya saja." Membaca pesan ini, bagaimana hati saya tidak meleleh? Cepat-cepat saya membalas pesan Ibu agar disampaikan pada bocah laki-laki yang masih belajar di Taman Kanak-Kanak itu, "Untuk Fais, jangan nangis ya. Nanti kalau Fais sudah bisa nulis, Bibi Dita tunggu surat dari Fais. 

Membaca surat-surat itu, terbit rasa bahagia di hati saya. Walaupun secara hubungan darah saya bukanlah siapa-siapa bagi mereka, ternyata mereka masih mengingat saya. Momen saat kami makan bersama, belajar bersama, ternyata masih tertinggal di ingatan mereka. Sebagaimana kalian mengingat Bibi Dita, Bibi Dita pun insyaAllah akan mengingat kalian, sayang! Juga berdoa untuk kebaikan kalian. 



Tidak ada komentar: