Translate

Minggu, 04 Oktober 2015

Keluar dari Zona Nyaman

Menjelang selesainya tahun anggaran seperti ini (macam kementerian/lembaga negara saja, hehe), saya menjadi lebih sibuk dari biasanya. Alasannya sudah bisa ditebak, banyak target belum terpenuhi sedangkan tahun sudah akan berganti. Setiap kali melihat kalender, rasa-rasanya deretan tanggal-tanggal sedang tertawa mengejek saya, "Memangnya targetnya bisa tercapai semua?" Kalau sudah begini, badan mulai panas dingin. Niat hati ingin mencapai semua target itu. Tapi rasa ngeri akan segera bergantinya bilangan tahun terus saja mengekor kemana pun saya pergi. 

Maka, salah satu cara yang bisa saya lakukan adalah dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar saya bisa membubuhkan tanda centang pada target-target yang belum tercapai. Nah, salah satu target perbaikan diri saya tahun ini adalah menjadi seseorang yang berani keluar dari zona nyaman. Parameter keberhasilan pencapaian target yang satu ini memang agak sulit. Namun setidaknya saya harus lebih sering menghadapi dan menyelesaikan situasi/hal-hal yang saya tidak suka. Contoh mudahnya adalah saya yang tidak suka bangun pagi di hari libur harus pelan-pelan mengubah kebiasaan itu. 

Bangun pagi di hari libur bagi saya sejujurnya bukanlah hal yang mudah. Setelah lima hari kerja, Sabtu-Minggu adalah waktu yang pas untuk bangun siang, menebus beberapa jam kekurangan tidur di hari kerja. Saya biasanya tetap beraktifitas di luar rumah pada hari Sabtu-Minggu, hanya saja saya memilih berangkat agak siang setelah membayar hutang tidur dan mengerjakan urusan "domestik".

Pagi ini, saya memaksa diri saya untuk bangun pagi agar bisa menyelesaikan semua urusan yang telah saya rencanakan untuk hari ini. Menurut jadwal yang saya buat sendiri, saya harus keluar rumah jam 06.00 pagi karena saya memiliki kelas memanah di Masjid Agung Al-Azhar jam 07.00. Kelas memanah selesai jam 09.00 dan setelah itu saya mesti pergi ke Ancol untuk menghadiri acara temu kangen alumni Universitas Gadjah Mada. Sebisa mungkin saya harus hadir karena Lia, teman saya, meminjam sebuah buku dari saya untuk mengerjakan tesisnya. 

Semua rencana itu terlaksana. Artinya, hari ini saya telah berhasil keluar dari salah satu zona nyaman saya yaitu bangun siang di hari libur. Selain tentang waktu, hari ini saya juga mencoba keluar dari zona nyaman lainnya. Saya biasanya ikut memanah di sesi 3, mulai jam 11.00. Di sesi itu saya sekelas dengan Septa dan Rida, teman saya. Bagi saya itu adalah zona nyaman saya karena di kelas saya tidak perlu berkenalan atau mengobrol dengan teman-teman lainnya. Akan tetapi, hari ini saya pindah kelas ke sesi 1, jam 07.00. Ini berarti saya tidak memiliki teman yang sudah saya kenal di kelas itu. Ini berarti juga bahwa saya harus mencoba berkenalan dengan mereka jika saya tidak ingin menjadi patung sepanjang kelas berlangsung. Ini zona nyaman kedua yang perlu saya enyahkan. Sejujurnya saya termasuk orang yang cuek dan agak malas berbicara dengan orang-orang baru. Namun pagi itu saya harus mencoba. Dan alhamdulillah saya berkenalan dengan 4 orang di kelas. Seorang dari 4 orang tersebut ternyata adalah teman kuliah dari teman SMA saya. 

Selesai kelas memanah, saya cepat-cepat berangkat ke Ancol. Di dalam Bus Trans-Jakarta yang saya tumpangi, saya mengajak mengobrol seorang ibu berwajah oriental yang duduk di samping saya. Dari sana saya belajar untuk memanusiakan orang-orang di sekitar saya walaupun saya belum mengenal mereka.

Saat saya sampai di Halte Ancol, Lia dan Wiwit masih transit di Stasiun Duri dan menunggu kereta yang ke arah Stasiun Kampung Bandan. Saya kemudian memutuskan masuk ke gedung acara lebih dulu. Ini sebenarnya sulit bagi saya karena saya pasti akan celingak-celinguk seperti anak hilang di antara alumni yang beratus-ratus atau mungkin beribu-ribu jumlahnya itu. Saat turun dari bus Gratis yang disediakan Ancol khusus untuk pengunjung, saya berbarengan dengan dua orang perempuan muda. "Mau ke acara Kagama, Mbak?", saya mengawali percakapan. Setelah mengiyakan dan tau bahwa saya sedang menunggu teman-teman yang belum datang, kami pun masuk bersama sambil mengobrol. Ternyata, setelah ngobrol ngalor-ngidul, salah satu dari mereka adalah teman kos saya di kos yang hanya sekitar 6 bulan saya tempati di Jogja sebelum saya lulus kuliah. Dunia sungguh sempit!

Sepanjang acara berlangsung, saya mencoba menjadi orang yang ramah. Saya berkenalan dengan temannya teman dan mengobrol seru. Lalu, saat Pak Anies Baswedan datang, saya sebenarnya ingin menyapa tapi beliau kadung dirubung oleh para alumni lainnya. Saya pun kemudian memutuskan untuk menyapa Ibu Fery Farhaty, istri Pak Anies yang sedang duduk bersama ibu-ibu lainnya. Dengan Ibu Fery saya tidak mengobrol banyak. Untuk menghormati privasi beliau, saya pun mohon diri dan menitip salam untuk Pak Anies. Ibu Fery pun mengucapkan terima kasih karena saya sudah mau menyapa beliau. Dalam hati saya berkata, sekelas Ibu Fery lho mau mengucapkan terima kasih untuk sapaan yang sederhana dari remah-remah krupuk seperti saya ini. 

Terakhir, menjelang pulang, saya baru menyadari bahwa saya hanya bertemu dengan dua teman angkatan 2007. Sepanjang saya membaca nametag yang berisi nama, fakultas dan angkatan, saya belum melihat angkatan 2007 lainnya. Saya kemudian iseng mengedarkan pandangan membaca papan nama satu persatu. Macam ketemu teman lama, saya reflek berteriak, "hei, angkatan 2007 ya?" pada seseorang yang saya lihat di name tag-nya bertuliskan angka yang saya cari-cari itu. Setelah mengobrol singkat, ternyata kami sudah berteman di ruang virtual. Ia pun kemudian mengenalkan teman-teman lainnya yang juga sudah cukup familiar bagi saya di ruang virtual.

Jadi, hari ini saya sudah berapa kali keluar dari zona nyaman? Banyak!! Keluar dari zona nyaman itu awalnya memang tidak mengenakkan. Tetapi, ada kejuatan-kejutan kecil yang menyenangkan. Besok dan seterusnya apakah saya masih bisa meneruskan usaha saya untuk keluar dari zona nyaman? Nobody knows, but I'll try! Dan agar besok saya lebih siap untuk keluar dari zona nyaman, saya putuskan untuk menutup hari ini dengan menuliskan pengalaman seharian ini ke dalam blog. Sebenarnya kepala saya sedikit pusing dan ingin segera tidur. Tapi saya kemudian menstimulus diri saya untuk menulis. Dan ternyata, alhamdulillah saya bisa. Sekali lagi saya bisa keluar dari zona nyaman.

Sumber gambar dari sini



Tidak ada komentar: