Translate

Jumat, 23 Oktober 2015

Waktu dan Pekerjaan

"Sebenarnya gimana sih pendapat teman-teman tentang aku, Des?" tanya saya pada Destri, teman sekantor saya. Destri berfikir sejenak, lalu menjawab "Kamu tuh kayak punya dunia sendiri, Dit. Teman-teman pada ngobrol bareng, jalan bareng, kamu gak mau nimbrung, asyik sama kegiatanmu sendiri."

"Oo gitu. Hmm.. Aku terlihat seperti orang yang sulit digapai ya? Sampai-sampai ada tuh teman-teman yang seusia dengaku atau lebih tapi mereka manggil aku mbak" saya kembali bertanya.

"Enggak gitu sih, Dit. Mungkin teman-teman itu segen aja sama kamu. Soalnya kamu itu kelihatan banget punya prinsip yang kuat"

Saya membuka obrolan ini bukan tanpa alasan. Saya sempat merasa khawatir orang lain di sekitar saya tidak bisa menerima saya yang "seperti punya dunia sendiri ini".

Saya kemudian menjelaskan kepada Destri bahwa saya memang tipe orang yang kurang suka ngobrol hahahihi tanpa arah dan tujuan yang jelas. Bagi sebagian orang, mengobrol seperti itu mungkin bermanfaat. Entah untuk mengakrabkan satu sama lain atau sekedar membuat fikiran rileks setelah bekerja/belajar. 

Bagi saya, mengobrol itu harus jelas akan membahas apa. Dalam obrolan itu, saya bisa belajar apa atau bisa mengajari apa. Saya pun biasanya merencanakan suatu obrolan. Misalnya begini, ketika saya pulang ke kampung halaman, saya biasanya sudah merencanakan akan mengobrol dengan siapa saja dan akan mengobrolkan apa saja. 

Kedengarannya ekstrim ya? Tapi tunggu, ini bukan berarti saya tidak bisa ramah pada orang-orang sekitar. Jika sedang berpapasan dengan orang-orang sekitar, saya biasanya tetap akan menyapa mereka dan menanyakan beberapa pertanyaan sewajarnya. Ini bukan hanya sekedar basa-basi, melainkan karena benar-benar ingin menjaga silaturahim. Jika pulang ke kos misalnya, saya biasanya menyempatkan bertegur sapa dengan teman-teman kos dan mengobrol entah dua atau tiga menit.

Saya melakukan semua itu karena saya berprinsip bahwa saya akan melakukan sesuatu jika dan hanya jika sesuatu itu bermanfaat bagi saya atau saya bisa memberikan manfaat. Saya mengatur detail waktu saya beserta target-target harian. Saya juga terbiasa melakukan pekerjaan secara multi tasking. Misalnya, ketika saya sedang makan sendirian, saya biasanya makan sambil melihat video kajian dari Youtube atau menonton film yang sudah saya simpan di dalam komputer saya.

Sama seperti manusia pada umumnya, keinginan untuk bermalas-malasan sesekali datang menghampiri saya. Untungnya, saya punya keluarga dan teman-teman yang menjadi pengingat saya untuk kembali bersemangat. Seperti malam ini, saat saya menelpon ibu saya, beliau bercerita bahwa malam ini ibu akan lembur mengerjakan pesanan makanan untuk esok pagi. Saya yang sudah berencana akan tidur awal waktu, tiba-tiba sigap membuka laptop dan membuat tulisan ini. Ibu saja bekerja tanpa kenal lelah, apa saya tidak malu jika tidak bekerja sekeras ibu?

Saat akan menutup tulisan ini, sementara mencari kata-kata yang pas sebagai penutup, tempelan kertas post-it yang berisi target-target saya tahun ini tiba-tiba seolah sedang menyapa saya, "kapan aku akan kau selesaikan, Dita?"

Waktu sangat terbatas, sementara pekerjaan yang harus diselesaikan masih banyak. Bismillah, mudahkan ya Allah. 

sumber gambar : ideaconnect.ugm.ac.id

Tidak ada komentar: