Translate

Kamis, 12 November 2015

Kelas Internasional

Salah satu acara televisi favorit saya saat ini adalah sitkom Kelas Internasional di Net-TV. Menonton acara ini, saya serasa sedang bernostalgia dengan masa empat tahun yang lalu saat saya masih menjadi tutor Bahasa Indonesia di INCULS (Indonesian Cultural and Language Learning Service) di Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Suasana kelas di INCULS, orang-orang yang pernah ada di sana, muncul kembali di ruang memori saya tiap kali menonton Kelas Internasional.

Saya mulai menjadi tutor Bahasa Indonesia untuk mahasiswa asing sejak petengahan 2009 hingga akhir 2011. Saya tidak ingat pasti berapa jumlah mahasiswa asing yang pernah saya ajar. Namun, adegan-adegan di sitkom yang tayang lima kali seminggu itu selalu berhasil membangkitkan kenangan-kenangan saya pada para mahasiswa saya. 

Saat melihat adegan tokoh Lingling yang kesulitan melafalkan kata "internasional" misalnya, pecahlah tawa saya karena tiba-tiba saya teringat pada salah seorang mahasiswa saya dari Jepang yang kesusahan melafalkan kata "perpustakaan". Contoh lainnya misalanya saat tokoh Kotaro memperagakan Karate, saya langsung teringat Mas Meddy, mahasiswa dari Perancis yang dengan piawai tampil memperagakan Pencak Silat saat acara pisah sambut mahasiswa INCULS.

Mengenal dan berinteraksi dengan aneka rupa manusia dari berbagai belahan dunia membuat saya belajar banya hal. Saya mulai mengenal ada negara bernama Vanuatu di Oceania dari seorang mahasiswa Papua Nugini. Saya mengenal gambaran alam dan penduduk Madagaskar dari Freddy, mahasiswa saya asal Madagaskar. Saya seolah sedang menyaksikan langsung konflik yang terjadi di Libya saat seorang mahasiswa saya asal Libya menceritakan konflik yang tengah terjadi di negaranya kala itu. Dari Laurent, mahasiswa saya asal Australia, saya menjadi tau bahwa di negeri Kanguru tersebut, Bahasa Indonesia menjadi pelajaran wajib bagi siswa SMA. 

Semua itu membuat saya merasa sangat bersyukur. Dengan menjadi tutor di INCULS, setidaknya saya telah mengisi masa muda (cie, dulu masih muda sih ya?) dengan kegiatan yang bermanfaat bagi diri saya dan semoga juga bagi bangsa saya. Menurut saya, menjadi tutor bagi mahasiswa asing adalah kesempatan yang baik untuk menghadirkan wajah bangsa Indonesia yang baik. Bagaimanapun, tutor adalah orang yang cukup sering mereka temui selama mereka di Indonesia. Semoga, dengan menjadi tutor yang baik, bisa mengubah opini negatif mereka tentang Indonesia.

"Orang Indonesia itu tidak bisa tepat waktu ya?", tanya hampir semua mahasiswa yang pernah saya ajar. Opini (atau malah memang fakta?) semacam itu berusaha saya patahkan dengan cara menjadi tutor yang tepat waktu. Banyak pula yang bertanya semacam ini, "Orang Indonesia itu lebih suka pada budaya asing daripada budayanya sendiri ya?" Itu saya bantah dengan cara menyisipkan cerita tentang budaya dan pariwisata Indonesia tiap kali tutorial. Atau, ada pula yang bertanya, "Banyak orang Islam yang menjadi teroris ya?" Maka, saya pun menjawabnya dengan memperlihatkan akhlak muslim yang baik.

Oh, ternyata sudah panjang tulisan ini. Sudah lewat jam 11.00 malam. Selamat tidur dan jangan lupa besok nonton Kelas Internasional ya! :-D














Tidak ada komentar: