Translate

Minggu, 31 Mei 2015

Ujian Hidup

Semua orang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing pagi itu. Tiba-tiba atasan kami keluar dari ruangannya, "Bapak baru saja ditelpon Ibu Lusri". Mendengar itu, kami seisi ruangan spontan mengarahkan pandangan ke arah atasan kami. Terlihat jelas wajah-wajah kaget dan penuh keingintahuan diantara kami. Pasalnya, dua jam sebelumnya kami mendengar kabar bahwa suami Ibu Lusri dilarikan ke rumah sakit karena penyakit gagal ginjal yang sudah lebih dari dua tahun diderita.

"Suami Ibu Lusri baru saja dipanggil oleh Allah SWT", lanjut atasan kami. Spontan kalimat istirja' meluncur dari mulut kami. Suasana kantor kami pun berubah drastis. Semua pekerjaan dihentikan. Masing-masing berinisiatif dan segera bergerak merespon kabar ini. Ada yang mengabarkan berita ini ke ruang lainnya. Ada yang menelpon Ibu Lusri untuk mengucapkan bela sungkawa dan menanyakan dimana posisi jenazah saat itu. Ada yang pergi ke bagian TU untuk melaporkan berita ini secara resmi. Ada pula yang mengoordinasikan mobil yang akan kami pakai untuk ta'ziyah. Hanya dalam hitungan menit semua urusan tersebut tuntas. Segera kami seisi ruangan bergerak ke Rumah Sakit POLRI Kramat Jati tempat suami Ibu Lusri menghembuskan nafas terakhir.

Setibanya di rumah sakit, kami langsung menuju ruang jenazah karena di sana jenazah bapak dari dua anak ini sedang disucikan dan dikafani oleh petugas rumah sakit. Aura kesedihan menguar dari ruang yang terletak di bagian paling belakang rumah sakit itu. Kami yang datang pun larut dalam suasana ini. Setelah bersalaman  dengan Ibu Lusri, kami berangsur-angsur keluar ruangan. Di depan ruangan itu kami menunggu hingga selesai penyucian dan pengafanan jenazah. Setelah semua selesai, kami berkonvoi mengiring jenazah hingga ke rumah duka.

Sepanjang perjalanan dari rumah sakit ke rumah duka itu kepala saya dipenuhi fikiran yang bermacam-macam. Kenangan masa-masa sulit yang pernah saya lalui pun berkelebat di kepala saya. Dan apa yang Ibu Lusri alami ini membuat saya menyimpulkan satu hal yaitu bahwa semakin kita bertambah usia, ujian hidup yang mesti kita lewati bukannya semakin sederhana melainkan justru semakin rumit dan tak terduga kedatangannya. 

Selama dua tahun penuh Ibu Lusri dengan sabar merawat suaminya yang harus secara berkala cuci darah tersebab penyakit gagal ginjal itu. Tentu itu adalah dua tahun yang tidak mudah. Waktu, tenaga dan biaya harus dikorbankan. Kelapangan hati menjadi taruhannya. Ibu Lusri pun bisa menjalani dua tahun itu dengan tegar. Semua orang mengakui ketegaran ibu yang tahun ini berusia 47 tahun itu.

Dan hari itu, Kamis, 28 Mei, Allah meningkatkan level ujian untuk Ibu Lusri. Sejak hari itu, suami yang dicintainya sudah pulang ke hadapan Allah. Jadilah beliau sebagai orang tua tunggal untuk kedua putra-putrinya yang saat ini masih berusia remaja (anak pertama duduk di bangku kuliah sedangkan anak kedua di bangku SMP). Lagi-lagi ini tentu bukan suatu perkara yang mudah. Mau tidak mau beliau harus menjalani semua itu. Bisa jadi di hari depan akan datang ujian-ujian lainnya yang lebih tinggi tingkatannya dari yang kali ini.

Ujian hidup adalah suatu keniscayaan bagi manusia. Seperti yang Allah firmankan dalam QS. Al-Ankabut : 2, Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman", dan mereka tidak diuji?. Kita tidak tau akan diuji dalam perkara apa dan bagaimana wujudnya. Semoga ujian yang Allah berikan kepada kita membuat kita semakin dekat pada Allah. Agar kita tidak berlarut-larut dalam kesedihan menghadapi ujian, kita perlu selalu ingat dan yakin bahwa kita bisa melewati semua itu karena Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Bukankah begitu?


Sumber gambar : mutiarahikmah.com

Tidak ada komentar: